Dia Hanya Seseorang, Tapi Dia Adalah Segala Hal

Aku telah berkelana ke banyak tempat, menyinggahi pelabuhan-pelabuhan yang pernah aku kira adalah rumah. Pada setiap dermaga, aku menurunkan jangkar dengan harap, berharap bahwa di sanalah perjalananku akan usai. Namun waktu selalu mengajarkanku bahwa tidak semua tempat yang menenangkan adalah tempat untuk tinggal. Tidak semua pelabuhan ditakdirkan untuk menjadi akhir.

Aku telah terombang-ambing di samudera kehidupan sepanjang perjalanan masa. Langit menjadi saksi bisu, bintang-bintang setia menemani malam-malamku yang sunyi. Angin berbisik lirih, seolah mengerti lelah yang kupikul, seolah mencoba menenangkan jiwa yang tak pernah benar-benar menemukan arah. Ombak datang dan pergi, membawa harapan, lalu merenggutnya kembali tanpa peringatan.

Berulang kali kapalku hampir karam. Gelombang menghantam tanpa ampun, hujan turun tanpa jeda, dan karang-karang tajam menunggu di bawah permukaan, siap merobek apa pun yang lengah. Aku pernah merasa kuat, hingga aku sadar bahwa kekuatan pun ada batasnya. Aku pernah merasa yakin, hingga aku mengerti bahwa keyakinan pun bisa runtuh.

Aku pernah kehilangan arah. Aku pernah berdiri di tengah luasnya samudera, tanpa tahu ke mana harus menuju. Aku pernah berteriak pada langit, menuntut jawaban yang tak kunjung datang. Aku pernah menangis dalam diam, memeluk diriku sendiri, mencoba meyakinkan hati bahwa semua ini ada akhirnya.

Dan ketika aku hampir percaya bahwa perjalananku hanya akan menjadi lingkaran tanpa ujung, ketika aku hampir menerima bahwa aku ditakdirkan untuk terus berlayar tanpa pernah benar-benar pulang, aku melihatmu.

Engkau bukan sekadar cahaya. Engkau adalah mercusuar yang berdiri teguh di tengah badai. Engkau tidak memanggil dengan suara, tetapi kehadiranmu cukup untuk menuntunku pulang. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus mencari lagi. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menjadi sesuatu yang lain agar bisa diterima.

Aku menemukanmu, pelabuhan yang paling indah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Di hadapanmu, kapalku tidak hanya bersandar. Ia berhenti. Ia beristirahat. Ia pulang.

Dan anehnya, aku tidak lagi merindukan samudera.

Bersamamu, aku tidak ingin lagi menjadi pengembara yang mengejar cakrawala. Aku ingin menjadi seseorang yang menetap. Seseorang yang setiap harinya bangun dan tahu, bahwa di dunia yang luas ini, ada satu tempat yang selalu menjadi miliknya—yaitu kamu.

Aku ingin memelukmu dengan seluruh kehangatan yang kupunya, seolah dunia tidak pernah cukup dingin untuk membuatku melepaskanmu. Aku ingin berjalan bersamamu, bukan untuk mencari sesuatu, tetapi untuk menikmati setiap detik yang kita miliki. Aku ingin membawamu berkelana, bukan lagi di lautan yang penuh ketidakpastian, tetapi di langit yang luas, di mana harapan tidak pernah tenggelam.

Aku menyayangimu dengan segala kekuranganku. Dengan seluruh luka yang pernah membentukku. Dengan setiap patah yang pernah mengajarkanku arti bertahan. Aku datang kepadamu bukan sebagai seseorang yang sempurna, tetapi sebagai seseorang yang akhirnya menemukan alasan untuk berhenti mencari kesempurnaan.

Jika engkau mengizinkanku, aku ingin menjadi bagian dari harimu. Menjadi seseorang yang kau cari ketika pagi datang. Menjadi seseorang yang kau rindukan ketika malam turun. Menjadi rumah, sebagaimana engkau telah menjadi rumah bagiku.

Dekaplah aku dengan seluruh jiwamu.

Karena di dalam pelukmu, aku bukan lagi seorang pengembara.

Aku adalah laki-laki yang paling beruntung di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *