Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Ada saat ketika diam bukanlah kelemahan, melainkan puncak kekuatan. Ketika fitnah menyelimuti seperti malam tanpa bulan, langkah yang tergesa-gesa justru menjerumuskan. Pada masa itu, duduk lebih baik daripada berdiri, berdiri lebih baik daripada berjalan, dan berjalan lebih baik daripada berlari. Sebuah paradoks yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang melihat dengan mata hati.
Fitnah di akhir zaman datang begitu pekat. Apa yang kita sangka cahaya bisa jadi api yang membakar, dan apa yang kita kira keburukan kadang justru menyelamatkan. Upaya melawan kebatilan tidak jarang berubah menjadi bahan bakar bagi api kebatilan itu sendiri. Yang mengajak kepada kehati-hatian bisa dicap pengecut, yang menyeru kepada kesabaran bisa dituduh pembela kesesatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melukiskan keadaan ini dengan gamblang:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.
“Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).
Hadits ini tidak memerintahkan kita pasrah pada kemungkaran. Ia mengajarkan bahwa di masa fitnah, menahan diri seringkali lebih selamat daripada bergerak. Bukan berarti berhenti beramar ma’ruf nahi munkar, melainkan menyadari bahwa pada saat-saat tertentu, seruan kebaikan yang tergesa justru bisa memadamkan kebaikan itu sendiri.
Maka diam bukan kelalaian, melainkan usaha menjaga kejernihan. Duduk bukan kelemahan, melainkan pilihan yang penuh kesadaran. Yang duduk itu menahan lisannya agar tidak terbawa arus tuduhan, menahan tangannya agar tidak ikut menyalakan api, menahan langkahnya agar tidak terperosok ke dalam jurang yang samar.
Namun di masa fitnah, menahan diri pun bisa menjadi ujian yang getir. Ada kalanya kita membenci kesesatan, tetapi justru dituduh sebagai pembela kesesatan. Ada kalanya kita menjaga diri dari pertikaian, tetapi justru dianggap pengecut atau pengkhianat. Inilah paradoks lain dari fitnah: engkau bisa dicela karena tidak berperang, meski sebenarnya engkau sedang berperang melawan nafsumu sendiri.
Rasulullah menuntun kita: jadilah seperti Habil. Ketika diancam oleh Qabil, Habil tidak melawan. Bukan karena takut, melainkan karena takutnya lebih besar kepada Allah. Ia berkata:
لَئِن بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَآأَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”
Itulah kekuatan diam: bukan kelemahan, melainkan keteguhan. Menolak membalas dengan keburukan, meski harus menanggung resiko paling pahit.
Paradoks diam adalah ini: ia tampak pasif, tetapi sesungguhnya aktif menahan gejolak. Ia tampak lemah, tetapi sesungguhnya sedang berdiri di puncak kekuatan. Di tengah pusaran fitnah, tidak semua langkah adalah kemenangan; kadang justru diamlah yang menjadi keselamatan.
Maka kita berdoa kepada Allah Ta’ala: semoga Dia menjaga kita, keluarga kita, dan keturunan kita dari fitnah yang gelap gulita. Semoga Dia menguatkan kita untuk menahan diri ketika langkah tergesa justru membawa kepada kehancuran. Dan semoga Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar, yang memahami bahwa dalam diam pun bisa ada kekuatan, dan dalam menahan diri tersimpan keselamatan.