Ukhuwah yang Retak di Tangan Kaum Cendekia

Islam hadir ke muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia datang bukan hanya sebagai seperangkat aturan ibadah, melainkan panduan yang menyentuh seluruh sendi kehidupan—dari pribadi, keluarga, hingga masyarakat dan negara. Kesederhanaan Islam membuatnya mudah diterima, bahkan oleh kalangan yang buta huruf sekalipun. Tidak perlu berlapis-lapis teori untuk memahami pesan agungnya: tauhid yang murni, akhlak yang indah, dan keadilan yang menyeluruh.

Justru karena kesederhanaan dan keindahan itulah, Islam tumbuh cepat. Orang-orang masuk ke dalamnya bukan dengan paksaan, tetapi dengan hati yang lapang. Suku-suku yang dahulu bermusuhan, diikat oleh tali persaudaraan baru. Kaum Anshar dan Muhajirin adalah bukti hidup bahwa ukhuwah Islamiyyah mampu meruntuhkan dinding kebencian yang telah diwariskan turun-temurun.

Namun, perjalanan sejarah tidak selalu berjalan di jalan lurus yang lapang. Seiring berjalannya waktu, terutama di era modern ini, Islam justru tampak semakin rumit. Tafsir yang beraneka ragam, kelompok yang lahir silih berganti, serta jargon-jargon intelektual yang tak henti diproduksi—membuat agama ini seakan jauh dari kesederhanaan aslinya. Alih-alih menuntun, sebagian dari kaum terpelajar justru memperumit. Alih-alih mempersatukan, ilmu yang mereka genggam malah menjadi belati yang mengiris ukhuwah.

Hari ini, umat Islam di banyak tempat terjebak dalam labirin klaim kebenaran. Masing-masing merasa paling murni, paling lurus, paling dekat dengan Allah. Perbedaan kecil membesar, perbedaan besar semakin melebar. Padahal, di atas segala perbedaan itu, ada satu istilah yang seharusnya menjadi penuntun: ukhuwah Islamiyyah.

Ironis, ketika Islam dulu mampu menyatukan kabilah-kabilah yang saling bermusuhan, kini umat Islam justru sulit bersatu meski diikat oleh satu kalimat syahadat. Apa yang dulu nyata dalam sejarah, kini seakan hilang dari pandangan mata.

Pertanyaannya: di manakah letak kesalahan kita?
Apakah pada teks yang tak pernah berubah sejak 14 abad lalu?
Atau pada cara sebagian kita—khususnya mereka yang disebut “cendekia”—membaca, menafsirkan, dan mengajarkannya?

Ilmu, sejatinya adalah cahaya. Ia seharusnya menerangi, bukan membutakan. Ia seharusnya mendamaikan, bukan memecah-belah. Ketika ilmu justru melahirkan kesombongan dan perpecahan, maka mungkin bukan ilmunya yang salah—melainkan hati yang menampungnya.

Umat Islam hari ini membutuhkan lebih dari sekadar perdebatan. Kita membutuhkan jiwa yang rendah hati, yang mau mengingat kembali ruh Islam yang sederhana, indah, dan mempersatukan. Sebab, bila ukhuwah terus dibiarkan retak, maka yang runtuh bukan hanya persaudaraan, melainkan juga wibawa Islam itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *